Breaking News
Home / Politik / Usai Pahlawan Nasional, Napak Tilas Keluarga Fachrori Lanjut ke Makam Sultan Thaha

Usai Pahlawan Nasional, Napak Tilas Keluarga Fachrori Lanjut ke Makam Sultan Thaha

Jambiday.co,JAMBI – Tak henti kagumi dan apresiasi perjuangan pahlawan yang membela bangsa. Usai berziarah ke makam sederet tokoh bangsa–Bung Karno di Blitar, Gus Dur di Jombang, Soeharto di Astana Giri Bangun dan Bj Habibie di TMP Kalibata–, Miftahul Ikhlas dan koleganya melanjutkan ziarah ke pusara Sultan Thaha Syaifuddin, pahlawan nasional asli Jambi, di Muara Tebo, Jumat 31 Januari 2020.

Dikelilingi pagar besi setinggi dua meter, makam sang sultan terletak di pusat Kota Tebo–persis di sebelah Sungai Batanghari. Paul tampak geleng-geleng ketika pandangannya menyapu areal makam seluas sekitar satu hektar itu. Seperti tak terurus, semak belukar setinggi lutut orang dewasa itu menyergap area makam.

Saat memasuki area makam, Hamdan, penjaga makam langsung menyambutnya. Beberapa lembar uang meluncur ke tangan Hamdan dari saku celananya.

“Pak bersihkan area makam ini ya…,”tutur Paul bernada ramah.

Hamdan secepatnya memanggil ankanya, Rinto–untuk mengambil mesin pemotong rumput.

“Saya beli minyak dulu pak,”sapa Hamdan kepada Paul.

Sementara Rinto menyiapkan mesin pemotong rumput dan Hamdan membeli minyak. Paul dan koleganya bergegas menuju pusara sang Sultan–yang terletak paling ujung area makam–. Pusara Sultan berada di bawah sebuah bangunan tanpa tembok–yang hanya dibatasi dengan pagar besi–.

Beberapa jenak Paul berdiam diri di samping pusara Sultan. Ia tampak tafakur. Sorot matanya menyapu pusara yang di atasnya terdapat batu kerikil berkelir putih itu.

“Mari kita berdoa. Semoga arwah pahlawan kita mendapat posisi terbaik dari sang maha pencipta. Semoga kita yang ditinggalkan, dapat meneladani perjuangan beliau,” katanya.

Seusai berdoa, Paul beranjak ke sudut sebelah kiri makam. Ia tampak takzim memandangi prasasti seukuran 2×3 meter itu.

“Sungguh luar biasa perjuangan beliau (Sultan). Demi tanah air, ia berjuang hingga mengorbankan nyawa,”ujarnya.

Paul lantas beringsut ke sudut kanan makam dan lagi-lagi tampak takjub membaca sajak yang ditulis oleh Mantan Bupati Tebo, H Majid Muaz. Baru saja usai membaca sajak ihwal perjuangan Sultan Thaha itu, Rinto tiba-tiba memanggil.

“Maaf Pak…alat pemotong rumputnya sudah siap. Minyaknya juga sudah diisi,”kata Rinto.

Dalam sekejap, Paul bergegas menjangkau mesin pemotong rumput itu. Di bawah terik mentari pagi itu, Paul turun langsung mengenyahkan ilalang yang tumbuh subur di area makam sang Sultan. Keringat deras bercucuran dari sebalik bajunya. Menggotong mesin pemotong rumput itu, Paul hanya mampu menyelesaikan seperempat area makam.

“Cuma sebatas ini kemampuan tenaga saya,”kata Paul sembari menyeka keringat yang mengalir deras dari wajahnya.

Rinto dan Hamdan kemudian secara bergiliran menuntaskan pembersihan rerumputan area makam itu.

Berziarah ke makam Sultan Thaha, Paul tak punya agenda politik apapun–seperti nyinyiran netizen–itu. Satu saja tujuannya. Sebagai napak tilas untuk mengingat sejarah dan perjuangan para tokoh bangsa. Menurut Paul, lawatannya ke pusara Sultan Thaha melanjutkan agenda tur ziarah ke pusara tokoh bangsa di Tanah Jawa–yang sudah ia lakukan selama hampir dua pekan itu.

“Biarlah orang bilang apa. Yang penting niat kita baik. Tujuan kita mulia. Biarlah Allah yang menilai,”kata Paul.

Berziarah ke makam Sultan Thaha misalnya, kata Paul, sungguh banyak faedahnya. Dengan berziarah itu, menurut Paul, warga akan tahu sejarah dan napak tilas perjuangan tokoh bangsa.

“Bagaimana perjuangan Sultan Thaha dalam melawan imperialis. Ini yang musti kita hidupkan terus, agar anak cucu kita tahu sejarah nenek moyangnya,”kata Paul.

Dari prasasti sang Sultan, diceritakan bagaimana kisah perjuangan Sultan melawan Belanda hingga meninggal di Bumi Serentk Galah Serengkuh Dayung. Lahir di Jambi pada 1816, nama Asli Sultan Thaha adalah ST Raden Toha Jayaningrat.

Semasa remaja, Sultan Thaha sempat berkelana hingga ke Aceh. Semasa di Aceh, ia belajar mengaji, tasawuf dan nahwu sorof. Dari sanalah ia mendapat gelar Raden Toha Syaifuddin. Menjadi Raja Jambi pada 1855, Sultan Thaha termasuk diantara raja yang paling keras sikapnya terhadap Belanda.

Bahkan, selepas dilantik, Sultan Thaha langsung menyatakan sikap perlawanannya terhadap penjajah. Ia misalnya, bergegas membatalkan semua kesepakatan dan kerjasama dengan Belanda. Melihat gelagat perlawanan Sultan Thaha itu, Belanda tentu saja tak tinggal diam.

Sementara, untuk menghadapi agresi Belanda, Sultan secepatnya menyusun kekuatan. Ia secepatnya menghimpun kekuatan rakyat. Dari Bukit Serpih Muara Tebo, Sultan Thaha mengomandoi semua pangeran dan panglima untuk melawan Belanda.

Selain menyusun kekuatan, menyiapkan bahan pangan dan membangun taktik perang. Sulta sempat membuka koalisi dengan Sisingamangaraja di Tapanuli. Klop. Kedua raja itu bersepakat di atas sumpah untuk melawan penjajah, hingga nyawa terserabut dari tubuh.

Dalam pertempuran tak seimbang itu–Belanda dengan persenjataan yang lengkap–, Sultan Thaha gugur pada subuh hari. Tubuhnya tercabik peluru dalam sebuah pertempuran dan sergapan Belanda di Sebuah Talang di Dusun Betung Berdarah, pada 1904. Sultan meninggal dalam usia 88 tahun.

“Anak-anak Jambi perlu memperbanyak belajar sejarah. Agar tahu jati diri bangsanya. Agar paham perjuangan nenek moyangnya. Bagaimana komitmen nenek moyangnya, yang tak mau menjual harga dirinya kepada orang asing. Rela mempertahankan tanah airnya, tumpah darahnya, dari orang asing, yang hanya mengeruk keuntungan dari kaum pribumi,”kata Paul.

Sementara, Jefri Bentara Pardede menyebut, selepas dari makam Sultan Thaha, mereka akan melanjutkan napak tilas ke makam Rang Kayo Hitam di Suak Kandis.

“Semangat pejuang ini harus terus bergelora ke sanubari kita. Semoga negeri kita sejahtera, makmur dan hidupnya berkah,”kata aktifis yang akrab disapa Kocu itu.

Ia berharap, warga Jambi memperbanyak napak tilas agar memahami sejarah perjuangan nenek moyangnya.(***)

About andri tj

Check Also

Di Rapimda Provinsi, MKGR Jambi Sepakat Dukung Adies Kadir Jadi Ketum DPP MKGR

Jambiday.co JAMBI – Jelang Musyawarah Besar (Mubes) DPP Ormas MKGR (Musyawarah Besar Gotong Royong) pada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *