Breaking News
Home / Politik / Diolok-olok Soal Ziarah Makam Tokoh Bangsa, Paul: Kami Doakan Yang Terbaik Untuk Mereka

Diolok-olok Soal Ziarah Makam Tokoh Bangsa, Paul: Kami Doakan Yang Terbaik Untuk Mereka

Jambiday.co,JAMBI – Tim keluarga Fachori Umar (FU) , Miftahul Ikhlas alias Paul, memasuki area parkir Astana Giribangun, Karanganyar, Rabu 21 Januari 2019. Seusai menerima secarik kertas–surat tanda masuk peziarah–, Tentara asal Lahat, Palembang, Dedy, memboyong Paul dan rombongan masuk ke makam pak Harto.

“Masuknya lewat sini pak,”ujar Dedy.

Astana Giri Bangun itu terletak di kaki lereng Gunung Lawu. Berjarak sekitar 15 Kilometer dari pusat Kota Karanganyar, akses menuju komplek pemakaman keluarga The Smilling General itu mesti melewati jalanan menanjak dan berkelok.

Hawa sejuk menyergap dengan hamparan sawah yang menghijau dan belantara hutan, menjadi pemandangan ciamik nan indah ditengok. Yang tak kalah sakral, komplek Astana Giri Bangun itu, terletak persis di samping makam pangeran Samber Nyawa–pemimpin militer paling berbakat dan berpengalaman sepanjang sejarah jawa–.

Maklum, Raden Mas Said atau pangeran Mangkunagara I–Pangeran berjuluk Samber Nyawa–itu, merupakan kerabat Raja Solo ketiga. Sementara Ibu Tien Soeharto adalah cucu Raja Solo tiga itu.

“Astana Giri Bangun ini memang satu komplek dengan pemakaman raja Solo. Karena Bu Tien adalah keturunan raja Solo,”kata Bambang, salah satu juru kunci Astana Giri Bangun.

Masuk ke makam pak Harto kudu melewati sebuah gerbang yang terbuat dari jati pilihan. Akses ke makam mesti lewat pintu bagian belakang. Untuk menuju ke sana, peziarah harus melewati tiga kali anak tangga.

Sebelum memboyong masuk ke makam, Bambang mengajak Paul–sapaan Miftahul Ikhlas–, melipir ke meja bagian samping pintu masuk. Pria berbadan tegap itu lantas bercerita singkat ihwal komplek Astana Giri Bangun dan aturan main bagi peziarah.

Hanya Paul dan beberapa koleganya–Daeng Hamdi dan Jefri Bintara Pardede– yang masuk dan mendekat hingga pusara Jenderal TNI AD Bintang Lima itu–. Sementara koleganya yang lain menunggu di bagian luar.

Makam pak Harto berada di nomor dua dari kanan–persis di samping pusara istrinya Siti Hartinah Soeharto–. Sementara, disamping pak Harto adalah pusara kedua orang tua Ibu Tien. Paling ujung sebelah kiri, adalah pusara kakak kandung ibu Tien.

Kelima makam itu berbentuk Kijing berwarna kuning keemasan– yang berukur serta ada cungkup di bagian kepala dan kaki–. Di sisi utara makam, dipasang foto Presiden Soeharto. Sedangkan foto ibu Tien terpasang di sisi kanan foto pak Harto.

Di samping foto Pak Harto dan Ibu Tien juga terpampang bintang tanda jasa Pak Harto dan Bu Tien sepanjang hidupnya. Hanya lima makam itu saja yang berada di dalam Cungkup Argo Sari–yang terletak di tengah-tengah dan paling tinggi–.

Paul dalam beberapa jenak terpaku dan terdiam. Sorot matanya menyapu makam sang jenderal. Duduk menghadap pusara, Paul lantas menengadah tangan dan berdoa.

Di sini, Paul tak melakukan ibadah apapun kecuali hanya berdoa.

Nah,

Usai ziarah, Bambang bergegas memboyong Paul ke luar makam, lewat pintu samping kiri.

“Di sini nanti, adalah lokasi makam anak-anak pak Harto,”tutur Bambang sembari menunjuk ke sebuah tempat di samping Cungkup Argo Sari itu.

Dengan melempar senyum, Paul lantas berswafoto di lokasi tersebut.

Lalu, di bagian timur kompleks makam atau jalan masuk ke Masjid Astana Giri Bangun itu ada sebuah jalan setapak. Jalan inilah yang langsung mengakses ke Astana Mangadeg–tempat dimakamnya pangeran Samber Nyawa, kakeknya Bu Tien Soeharto–.

“Alhamdulillah…prosesi ziarah kita berjalan lancar. Tanpa hambatan,”kata Paul.

Paul bahagianya bukan main. Setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan fisik, ia berhasil mendatangi tiga pusara Mantan Presiden RI itu.

Tapi, Paul lagi-lagi menanggapi nyinyiran sejumlah orang di medsos. Ia misalnya, menyebut ziarah ke makam tokoh bangsa juga kerap dilakukan sejumlah Presiden, mulai dari SBY hingga Jokowi.

Ziarah ke makam Bung Karno, Gus Dur dan pak Harto, kata Paul, lazim dilakukan. Tak ada yang aneh.

“Kok hari gini masih ada yang mengolok-olok. Dikatain nyembah kuburan lah, syirik lah. Berarti apa yang dilakukan pak SBY hingga pak Jokowi, yang pernah berziarah itu salah?. Kami ke makam Bung Karno, Gus Dur dan Pak Harto hanya untuk ziarah. Ini Napak tilas terhadap para tokoh bangsa. Karena merekalah rakyat indonesia bisa bersatu,”kata Paul.

Ia heran, niat baik itu kok justru ditafsir macam-macam. Tapi, bagi Paul, biarlah anjing menggong kapilah berlalu.

“Yang penting niat kita baik. Bagi yang nyinyir dan suka mengolok-olok, kami doakan kebaikan bagi mereka,”ujarnya.

Satu hal harapannya, Paul ingin rakyat Jambi bersatu. Tak mudah terprovokasi dan anarkis dalam menyambut Pilgub Mendatang.

Usai ziarah, sejumlah tentara terlihat berswafoto bersama tim Fachrori itu. Dari Astana Giri Bangun, Paul berencana akan mengakhiri Napak tilas dan ziarah ke makam Presiden Bj Habibie.

“Hari ini kita bergerak ke Jakarta. Untuk ziarah ke makam pak Habibie,”imbuh Jefri Bintara Pardede.

Ia hanya melempar senyum menanggapi nyinyiran terhadap langkah mereka.

“Biasalah. Dak usah diambil hati. Justru mereka yang syirik, karena tak pernah berniat dan berkesempatan mengunjungi makam tokoh bangsa. Niat kita baik kok, hanya Napak tilas dan ziarah saja,”katanya.

Aktivis yang akrab dengan sebutan Kocu itu berharap, rakyat Jambi bersatu dan sejahtera dalam naungan Jambi Berkah. (***)

About andri tj

Check Also

Tanpa Persiapan Khusus, Jelang Debat KPU, Fachrori Banyak Diskusi Dengan Tim Pakar & Ahli

Jambiday.co, JAMBI – Calon Gubernur Jambi nomor urut dua, Fachrori Umar, mengaku tidak punya persiapan yang terlalu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *