Breaking News
Home / Eko Bisnis / Tingkatkan Ekonomi Lokal Melalui Kopi, Koperasi Koerintji Barokah Bersama dan BI Berbakti Untuk Negeri

Tingkatkan Ekonomi Lokal Melalui Kopi, Koperasi Koerintji Barokah Bersama dan BI Berbakti Untuk Negeri

Jambiday.co,JAMBI – Kun fa ya kun, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak. Manusia tugasnya berusaha, Allah jua lah penentu hasil segalanya. Inilah yang diungkapkan oleh Triyono, (36), Ketua Koperasi Pemasaran, Koerintji Barokah Bersama, Desa Jernih Jaya, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci. Bagaimana tidak, dari awal yang hanya petani biasa dan tidak membayangkan akan menjadi besar bahkan bisa menjual hingga ke luar negeri.
‘’Jejak awal koperasi kita adalah pada tahun 2012, di saat Pemkab Kerinci memberikan kebun seluas 1 hektar kepada asosiasi petani kopi arabika Kerinci untuk dijadikan kebun entres. Lalu dikelola dengan baik oleh asosiasi dan mendapatkan kepercayaan dari dinas perkebuna Kerinci,’’ kisah Triyono.
Barulah pada tahun 2015, terbentuk Masyarakat Peduli Indikasi Geografis (MPIG) Arabica Koerintji. Dan MPIG mendapatkan bantuan alat pengolahan (pulper, huller, terpal) dari Dinas Perkebunan Kerinci. Hingga tahun 2016, dukungan dari Dinas Perkebunan Kerinci kepada MPIG terus berlanjut. Dan langkah awal, terbersit niat untuk bersama dan lebih maju lagi. Di tahun 2017, beberapa anggota MPIG membentuk Koperasi Koerintji Barokah Bersama. Dan bekerja sama dengan Rikolto Indonesia pun dimulai.
‘’Baru sebagian yang kita ajak, seluruh anggota MPIG ada 513 orang. Di awal baru 120 petani yang mampu kita rangkul. Awalnya jual HS basah dan saat sudah mendapat fasilitas dari BI dan pihak lainnya baru bisa kita olah green bean. Kita menerima paket rumah jemur dari Disbun Kerinci, menjual kopi spesialti Arabica ke MTC dan kita juga juara satu kontes kopi spesialti Indonesia di Jakarta, itu tahun 2017 semua,’’ terang Triyono.
Meskipun telah mulai dikenal banyak pihak, dan menjuarai beberapa event, tidak serta merta membuat langkah mereka menjadi mudah. Ada Rikolto selaku Non Goverment Organisation (NGO) yang mendampingi mereka untuk meningkatkan sumber daya masyarakat (SDM). Terbantulah mereka untuk meningkatkan motivasi agar bergerak lebih tinggi dan luas lagi. Oleh karena itu, terang Triyono, mereka langsung berinisiatif mendatang Bank Indonesia (BI) guna mencari bantuan pendampingan wira usaha.

‘’Pertama kali datang, tidak langsung bertemu dengan pihak BI yang mengurus pendampingan wira usaha. Kami jadinya hanya meninggalkan kartu nama saja. Baru pada hari ketiga bisa bertemu, dan berbincang-bincangan mengenai bantuan dan program dampingan,’’ tambahnya.
Sukanya pada BI, kata Triyono, fleksibel dan tidak berbelit-belit. Mereka (BI) memberikan bantuan sesuai dengan porsi kebutuhan dan keinginan petani. Dicontohkan olehnya, bantuan dome yang diberikan oleh pihak BI. Pihaknya hanya menerima bahan baku, terkait design bangunan diserahkan BI kepada mereka. Oleh karen itu, banyak yang dimodifikasi bangunan dome ini sesuai dengan kondisi cuaca. Jika panas terpal di bawah ini bisa di buka, dan jika dingin bisa turunkan lagi.. Jadi semua memang sesuai fungsi yang diinginkan..
‘’Suhu bisa stabil, karena kopi tidak bisa dipaksakan keringnya, semua ada umur jemurnya. Baik itu natural, honey, ketika terlalu cepat kering juga tidak bagus. Bantuan dome dari BI ada 9 uni, . 4 unit di lokasi nya dan 5 lagi menyebar di petani lainnya yang satu kelompok koperasi dengan kita. Berkat BI, proses finishing dan packaging sudah di sini,’’ ujarnya.
Untuk saat ini, aku pria beranak tiga dan hanya tamatan SMA ini, koperasi tersebut telah mengantongi izin eksportir. Dan harapannya telah bisa eksportir sendiri. Saat in pihaknya sedang melakukan penjajakan kepada pihak Pelabuhan Talang Duku terkait gudang. Apakah pihak pelabuhan bisa menyediakan gudang khusus agar tidak tercampur dengan bahan lainnya.
Di Tahun 2019 ini, katanya mereka telah produksi 6-7 ton perbulan (green beand) dengan luas lahan 140 hektar. Menurut dia, 2018 awal baru 110 petani, sekarang sudah 270 petani. Mereka telah melakukan pemasaran ke Australia, California, Belgia, Belanda dan Swedia.. Kalau skala lokal ke Surabaya, Jogja, Bali dan Jakarta.. Rasa unik dari kopi mereka, telah diakui yaitu spesialti Indonesia. Dan indikasi geographis (IG) menjadi salah satu pembeda, kopi unik berdasarkan wilayahnya. Mereka telah mendapatkan sertifikasi IG.
Tahap awal sebelum BI masuk, mereka hanya mampu memasarkan, 1-1,5 ton. Dan jika saat awal mereka hanya mampu pola manual, berkat bantuan dan dampingan BI mereka sudah bisa lebih efisiensi waktu prosesnya.

‘’Sebelumnya manual alias memakai terpal dan menjemur di luar. 1 dome sekitar 500 Kg chery, 1,5 ton, untuk natural bisa sampai 3 ton. Pasang surut volume produksi iya, surplus itu terjadi di bulan Maret, April dan Mei setiap tahunnya. Pada bulan tersebut pasti surplus, karena ada hujan dan panas seperti ini cukup bagus. pada tahun 2016 itu sangat bagus hasilnya, prediksi pada tahun 2020 nanti akan sangat bagus juga,’’ jelasnya dengan nada semangat.
Mengapa faktor cauaca menjadi penentu produksi. Menurut Triyono karena tahapan di mulai proses panen ditentukan oleh cuaca tadi. Awal nya dari kebun panen, kita petik, kemudian di bawa ke UPH atau ke kelompok. Nanti kopi dirambang atau dimasukkan ke dalam air alias di cuci. Yang mengapung dipisahkan dan tenggelam di proses. Yang terapung itu tidak dibuang tapi diproses juga tapi dipisahkan jenisnya. . pihaknya ada 5 langkah proses, yang paling standar adalah full wash, dikupas sore itu, direndam semalam, pagi dicuci dan langsung dijemur sampai kering kadar air 12 persen. Setelah di jemur kopi itu diresting alias dimasukkan dalam karung dan di simpan, paling cepat dua minggu. Setelah lewat kopi di buka dan didiamkan sekitar 1-2 hari.. baru langsung di huller alias dikupas kulit dalamnya. Terus langsung disortasi manual oleh ibu-ibu, baru di pilih dan disangrai. Dipilih mana yang spesialti dan tidak, setelah itu di tes oleh juru uji mereka dan dinyatakan layak baru lah di bungkus.
Rangkaian proses tersebut tentu Triyono tidak bisa bekerja sendiri. Oleh karena itu dirangkullah kaum wanita dan pemuda setempat. Dirinya merasa bangga jika bisa bermanfaat dan memberikan lapangan pekerjaan kepada warga sekitar.
‘’Jika mau diakui, untuk ekonomi saya sendiri itu stagnan dan tidak ada perkembangan. Lebih baik pribadi tapi jika berkelompok malahan lebih kurang.. Tapi harapan saya cuma satu yaitu bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Saya maunya kaum muda di sekitar kita mau bertahan di kampung dengan penghasilan yang layak. Saya yakin semakin membaik, koperasi besar semua bisa menghasilkan yang lebih baik. Semua berkat bantuan dan dampingan BI serta lainnya,’’ aku Triyono.
Perkembangan ekonomi lokal tersebut diakui oleh Yenti (45) yang telah tiga tahun bekerja dengan Koperasi Pemasaran di bawah komando Triyono ini. Menurut Yenti, mereka dibayar perhari sesuai jenis pekerjaannya.
‘’Untuk metik perkilo itu Rp 2500, saya bisa sampai 30 Kg. Sortir Rp 2.000/kilo, dan saya bisa kumpulkam sampai 50 Kg. Jam kerja dari 08.00 WIB hingga 16.00 WIB, ‘’ jelas Yenti sembari memetik kopi.

Semua niat dan motivasi ingin maju dan meningkatkan taraf ekonomi lokal tadi lah yang menarik perhatian Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Jambi, untuk hadir ditengah-tengah masyarakat Kerinci bersinergi dengan dinas perkebunan provinsi Jambi dan Pemerintah kabupaten Kerinci, bersama mengembangkan komoditas Kopi. Peran nyata tersebut sejalan dengan Visi Bank Indonesia “Menjadi bank sentral yang berkontribusi secara nyata terhadap perekonomian Indonesia dan terbaik diantara negara emerging markets”

“Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Jambi, masuk membina Koperasi Koerintji Barokah Bersama, pada akhir tahun 2017. Bank Indonesia sangat konsen pengembangan komoditas unggulan di provinsi Jambi, salah satunya kopi. Kenapa Bank Indonesia sangat Konsen,? Salah satu permasalahan perekonomian kita adalah karena adanya defisit transaksi berjalan yang disebabkan besarnya impor dari pada ekspor. Komoditas kopi sangat berpotensi sebagai komoditas ekspor, sehingga diharapkan dengan meningkatnya komoditas ekspor dapat mengurangi defisit transaksi berjalan kita,” jelas Didit Wahyu Pradipta selaku Asisten Manager fungsi koordinasi dan komunikasi kebijakan Bank Indonesia Perwakilan Jambi.
Sejak 22 Maret 2018 Bank Indonesia, memberikan dukungan dan penggalangan komitmen kepada 22 orang anggota Koperasi Koerintji Barokah Bersama. Bank Indonesia mengarahkan aspek peningkatan produksi, kualitas produksi dan diversifikasi produk yang dijual. Hingga oktober 2019 tercatat bantuan mengalir berupa pelatihan Q-Grader, fasilitas promosi dalam dan luar negeri, 9 Unit fasilitas rumah pengering, 1 Unit mesin penggiling basah, 1 Unit gudang kopi (dalam proses konstruksi), serta mendorong untuk pengembangan produk berupa bubuk kopi siap jual bahkan produk kompos dari limbah kulit kopi.
BI tidak bekerja sendiri, ada juga Rikolto sebagai salah satu NGO yang berwawasan lingkungan memberikan dukungan dalam hal penatalaksanaan hulu hingga hilir produksi kopi agar dengan prinsip kelestarian lingkungan yang berkelanjutan. Beberapa kegiatan antara lain peningkatann produktivitas dengan membuat kebun contoh berwawasan budidaya berkelanjutan, usaha bisnis Coffe Shop dan Roastery, pemberdayaan petani muda supaya menerapkan prinsip pelestarian lingkungan hingga mendorong digitalisasi dan inklusi bisnis.
“Pada awalnya koperasi ini masih banyak kekurangan, Bank Indonesia membina dari sisi teknis, seperti pelatihan, pengembangan sumber daya manusia, peningkatan manajemen keuangan dan sebagainya maupun sisi non teknis berupa bantuan material, seperti fasilitas pengering, gudang dan sebagainya dengan harapan dapat berefek pada meningkatnya kapasitas produksi,” tambah pria ramah ini.
Didit, menerangkan peran Bank Indonesia perwakilan provinsi Jambi, membina Koperasi Koerintji Barokah Bersama, selama dua tahun dapat menunjukan kemajuan signifikan pada produksi dengan semakin besarnya kapasitas ekspor mencapi 100 persen.
“Sebelum Bank Indonesia masuk membina Koperasi ini, awalnya kapasitas produksi 40 ton per tahun. Alhamdulillah kurang lebih 2 tahun Bank Indonesia membina, kapasitas produksinya saat ini menjadi 80 ton per tahun, artinya ada peningkatan sekitar 100 persen dari sebelum Bank Indonesia membina. Bank Indonesia hanya menargetkan 2 tahun masa pembinaan dan Opsi 1 tahun perpanjangan. Target kedepan terus mendukung peningkatan kapasitas produksi karena permintaan ekspor di koperasi koerintji barokah bersama, sangat tinggi bahkan belum mampu melayani permintaan lebih besar karena adanya keterbatas produksi. Diharapkan kedepan semakin meningkat kapasitas produksi sehingga dapat memenuhi permintaan kebutuhan dalam negeri dan luar negeri,” pungkasnya. (oyi)

About andri tj

Check Also

Gelar Seminar Nasional, Pertamina EP Wujudkan Komitmen Inovasi Pemberdayaan Masyarakat di Tengah Covid-19

Jambiday.co,JAMBI-Sebagai  wujud  komitmen  pengembangan  inovasi  dalam  rangka  pemberdayaan  masyarakat,  PT  Pertamina EP  menggelar  Seminar  Ilmiah  …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *