Breaking News
Home / Khazanah / Budaya / Menentang Tradisi Kelam, Pertamina EP Jambi Bawa Secercah Cahaya Terang

Menentang Tradisi Kelam, Pertamina EP Jambi Bawa Secercah Cahaya Terang

Tidak mudah, namun tidak pula susah. Kata-kata ini klise mungkin bagi beberapa orang, tapi ternyata cukup ‘’sakti’’ bagi Tinah (42), wanita beranak tiga yang berdomisili di RT 26, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura Kota Jambi ini. Mengapa begitu? Selama puluhan tahun, tepatnya hampir 32 tahun, dia berusaha mendongkrak tradisi membatik kain khas Jambi namun terus saja mendapat tentangan. Tidak hanya dari lingkungan saat itu, di mana dia masih berusia belia, namun juga dari keluarga.

‘’Tidak menghasilkan uang, dan membutuhkan banyak dana. Betino (perempuan-red) dak perlu banyak tingkah (kerjaan-red). Kage (nanti-red) adolah yang datang ke rumah melamar, cukup kau tunggu be. Apo pulo nak nyari-nyari duit, padek (pintar-red) nian cari duit kage lanang (laki-laki-red) takut,’’ kisah Tinah dengan logat bahasa Jambinya.
Sempat mengalah, dan tidak melakukan apapun hanya duduk diam di rumah dan membantu orang tua menjalankan tugas keseharian sebagai perempuan tradisional Jambi yang lekat dalam kehidupannya. Mengambil air ke sungai berjarak cukup lumayan, sekitar 1,5 kilometer dari rumah yang berbentuk panggung khas Kota Jambi Seberang. Namun, keinginan untuk tetap belajar membatikl terus meronta dalam jiwanya. Terlepas akan menghasilkan uang atau tidak. Itu urusan nanti. Namun keinginan untuk terus berkarya dan mengeluarkan kreatifitas seni menggambar di sehelai kain alias membatik terus bergema dalam fikirannya. Akhirnya, dia belajar dari lingkungan sekitar, meskipun tidak diam-diam dari keluarga namun juga tidak diceritakannya secara langsung. Banyak karya yang sudah ditelurkannya di helai kain dengan berbagai bentuk dan bahan kain. Mulai dari kain katun biasa hingga sutera. Dari batik cap hingga ke batik tulis yang membutuhkan kerja sedikit ekstra teliti.

‘’Khas Jambi itu banyak jenisnya, seperti durian pecah, seluang mudik, angso duo sampai dengan kembang duren. Ada katun biasa, hingga bahan sutera yang cukup diminati banyak orang. Tergantung keinginan konsumen saat itu yang diminati apa saja, ado yang cap dan ado tulis dengan menggunakan lilin,’’ kata Tinah lagi.
Singkat cerita, sembari belajar membatik, Tinah pun meneruskan kehidupan kewanitaannya yaitu menikah dan mempunyai anak. Lalu, apakah pudar keinginannnya untuk terus membatik. Tentu saja tidak, sempat terus bekerja dan membantu ekonomi suami, namun berhenti karena tidak seimbangnya komposisi mengasuh dan mengurus rumah dengan bekerja di luar. Tentu saja, seulet apapaun wanita untuk menyelesaikan kerjaan rumah, namun suami tetap ingin agar isteri tercintanya duduk diam di rumah. Ditambah penghasilan yang tidak besar didapatkannya dari membantu membuat batik di rumah batik khas Jambi tadi.
Istirahat beberapa lama, tinggal menetap jauh dari rumah orang tua. Meskipun masih di Kota Jambi, namun menyebrang sungai disebut cukup jauh. Hal ini diistilahkan oleh warga Jambi Kota Sebrang, jika ada anak dan keturunannya yang ‘’hijrah’’ dan menyebrang Sungai Batanghari untuk tinggal dan menetap di sana.
Wilayah Legok, yang notabenenya bisa dipandang dengan mata telanjang dari rumah aslinya menjadi pilihan Tinah dan suami untuk membesarkan anak-anaknya. Hingga bertahun-tahun dirinya dan keluarga bertahan di sana. Bahkan, sisi negatif lingkungan yang dikenal dengan nama ‘’kampung narkoba’’ yang melekat dengan daerahnya tidak menjadi penghalang bagi dirinya. Apalagi berkeinginan untuk pindah, sama sekali tidak pernah difikirkannnya.
‘’Semua daerah samo (sama-red), baik itu positif ataupun negatif. Tinggal kito yang menjalani hidup seperti apo. Soal narkoba dan lainnya, itu bukanlah hal yang baru dan tabu di sini. Semua masyarakat sudah tahu, se Kota Jambi bahkan mungkin se Provinsi Jambi. Tapi biarlah, yang penting tugas sayo jago anak-anak biak dak ikut-ikutan,’’ tegas Tinah.
Wanita berperawakan kurus ini, ternyata cukup tangguh menghadapi hidup yang cukup berat untuk dijalaninya. Nafkah yang tidak banyak diberikan suami, membuat dia harus memutar kepala untuk bisa mencukupi semua kebutuhan sehari-hari di rumahnya. Pucuk di cinta ulampun tiba, pepatah ini sepertinya tepat untuk menggambarkan situasi Tinah yang galau dengan kehidupan ekonomi namun muncul tawaran untuk bekerja sekaligus menyalurkan hobinya.
‘’Tepatnya tahun 2018, ada tawaran dari lurah Legok kalo ada BUMN yaitu Pertamina yang ingin memberikan bantuan sosial kepada lingkungan. Untuk menciptakan lapangan kerja, sekaligus membantu menghilangkan cap negatif sebagai kampung narkoba di sini,’’ kata Tinah dengan nada gembira.
Gayung bersambut, tidak butuh waktu lama, dirinya langsung menerima tawaran dari lurah setempat. Mengumpulkan wanita-wanita sekitar yang mau bergabung dengan nya untuk membuat rumah batik bantuan dari Pertamina tadi. Mulai dari jumlah puluhan hingga berkurang menjadi belasan.Namun hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk tetap berinovasi mengeluarkan hoby sekaligus menghasilkan pundi-pundi uang.
Manager Field Pertamina EP Jambi, Gondo Irawan, mengaku takjub melihat perkembangan yang dialami Tinah dan rekan-rekannya. Karena tahap awal, di mana pihaknya melakukan observasi lingkungan, yang akhirnya menjatuhkan pilihan di Kelurahan Legok, melewati berbagai macam penilaian.
‘’Tim kami turun dan survey terlebih dahulu ke berbagai lokasi. Sebelum akhirnya menjatuhkan pilihan kesini. Pertanyaanya, kenapa di sini? Notabenenya lingkungan yang maaf, mungkin terlihat kurang bersahabat. Tapi ternyata menyimpan motivasi yang luar biasa untuk maju, dan kami hanya melihat dan mendampingi. Pemilihan warga, dan siapa yang mau bergabung itu otonomi Buk Tinah yang dibantu RT setempat plus pak Lurah tentunya,’’ jelas Gondo.
Usai menjatuhkan pilihan ke Tinah dan rekan, Pertamina EP Jambi sendiri langsung berkoordinasi dengan Lurah, Camat hingga level Walikota selaku pimpinan tertinggi di Kota Jambi. Dan alhamdulillahnya, Walikota Jambi, SY Fasha yang memang berdedikasi tinggi untuk memajukan seni tradisi daerah sembari membuka lapangan kerja menyambut baik niat tersebut.
‘’Bapak Walikota Fasha, sangat luar biasa mensupport masyarakatnya yang ingin maju. Berkat dampingan dan bantuan serta didikan dari Ibu Yuliana Fasha selaku Ketua TP PKK, Buk Tinah dan jajaran mendapatkan ilmu yang tidak sedikit. Binaan Pertamina yang sinkron dengan program pemerintah,’’ tambah Gondo
Waktu satu tahun, kerja keras Tinah dan tim nya di Rumah Batik Sipin Jajaran Jambi beserta dampingan dari Pertamina EP Jambi menelurkan hasil yang menggembirakan. Tidak tanggung-tanggung, pihaknya berhasil menciptakan lima motif batik yang satunya telah dipatenkan. Seperti motif enam-enam, seluang mudik, bajubang, dan yang baru motif biota laut. Yang motif telah dipatenkan itu adalah motif Bajubang.

‘’Baru motif Bajubang yang kita patenkan, itu atas bantuan pemerintah juga. Pertamina EP Jambi yang membantu dan mendampingi kami.Karena kami kan dak tahu caro patenkan gimano. Maklumlah mbak e, dak sekolah tinggi ko dak ngerti urusan pemerintahan cak itu. Selebihnya menggunakan motif yang kita beli dari motif ciptaan orang lain,’’ tambah Tinah.
Lancar di pekerjaan, bukan berarti lancar dengan rumah tangga dan lingkungan sekitar. Hambatan muncul, di mulai dari orang terdekat yakni suami. Larangan untuk melanjutkan pekerjaannya muncul karena pandangan buruk dari lingkungan tempat tinggal. Di anggap menjadi penghalang ‘’aktivitas negatif’’ mereka untuk tetap melakukan transaksional peredaran barang haram di lingkungan. Karena rumah batik tempatnya kerja dan mengabdi ramai dikunjungi banyak pihak, otomatis membuat lingkungan tersebut tidak lagi ‘’steril’’ untuk sebagian orang. Di tambah lagi BNN selaku stake holder terkait mulai merangkul nya untuk menjadi penyambung lidah di lingkungan atas inovasinya yang mampu mengajak wanita dan anak muda untuk mau bekerja dengannya.
Di tambah lagi dukungan dari Pertamina EP Jambi yang membantu tidak hanya mendirikan rumah batik saja. Namun hingga ke pemasaran, dan membawa konsumen meskipun skala lokal yang cukup membuat lingkungan di mana dia berdikari ramai dikunjungi.
‘’Biasalah, niat baik selalu diartikan negatif bagi pihak-pihak yang dirugikan. Saya juga tidak paham mereka ruginya di mana. Karena bagi sebagian orang, ini bisa menjadi penghasil tambahan. Jujur, bagi saya ini malah jadi penghasilan utama. Tapi tetap sebagai wanita dan isteri, ini penghasilan tambahan. Karena yang utama itu dari suami selaku pemberi nafkah,’’ kata Tinah sembari tersenyum.
Bahkan, cobaan yang terberat bagi nya dan keluarga adalah terjadinya insiden pembakaran rumah tempat dia bernaung. Meskipun tidak ada korban nyawa, namun insiden tersebut cukup menjadikan traumatis baginya dan keluarga terutama anak-anak yang masih masa pertumbuhan. Disisihkan dari lingkungan, bahkan ancaman kepada nya dan keluarga juga mengalir. Namun hal tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk tetap berinovasi membatik dan menciptakan motif terbaru.
‘’Bismillah saja, niat baik pasti menghasilkan yang baik pula. Tantangan dan ancaman itu saya sikapi positif saja. Biar aparat hukum yang berwenang mengatasi hal itu, bagi saya dan anggota yang penting adalah terus membatik. Menghasilkan uang dan meneruskan tradisi lama, jangan sampai pudar dan hilang tradisi lokal Jambi ini. Jangan sampai pula tradisi negatif itu yang merajalela, masih banyak orang baik di muka bumi. Jangan sampai bantuan dan dampingan dari Pertamina EP Jambi sia-sia. Kami sangat berterima kasih, ’’ pungkas Tinah. (***)

About andri tj

Check Also

Hari Batik Nasional, Syafril Nursal: Batik Jambi Harus Naik Kelas

Jambiday.co, JAMBI- 11 Tahun yang lalu, tepatnya 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan Batik sebagai daftar Intangible …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *