Breaking News
Home / Eko Bisnis / Healty / Diminta Tebus Obat di Luar RS, Pasien BPJS Kesehatan Diminta Lapor

Diminta Tebus Obat di Luar RS, Pasien BPJS Kesehatan Diminta Lapor

Jambiday.co,JAMBI – Sebagai sarana transfer informasi, media diminta berperan aktif untuk memberi edukasi dan pemahaman kepada masyarakat. Karena BPJS Kesehatan Jambi terbatas SDM untuk mendengarkan keluhan langsung dari ribuan pesertanya di Provinsi Jambi. Inilah yang diutarakan oleh Kepala Cabang BPJS Kesehatan Jambi, Rizky Lestari terkait kondisi terkini yang dialami oleh BPJS Kesehatan Jambi.

“Media itu penting fungsinya, sebagai perpanjangan tangan kami untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Salah satunya tentang penyesuaian iuran jaminan kesehatan,” terang Rizky saat media gathering, Selasa (12/11).

Menurut Rizky, penyesuaian iuran ini tertuang dalam Perpres No. 75 tahun 2019, tentang perubahan atas Perpres No. 82 tahun 2018, yang mulai berlaku pada 1 Januari 2020 mendatang. Dan penyesuaian besar iuran ini diharapkan berdampak pada kondisi keuangan Faskes yang membaik, kualitas layanan membaik dan peserta puas. Diharapkan tingkat kesadaran masyarakat meningkat, karena dengan rutin bayar iuran, maka diharapkan tidak ada lagi yang menunggak. 

Selain pembahasan tersebut, banyaknya juga keluhan di tengah masyarakat saat berobat di rumah sakit (RS) yang bermitra dengan BPJS Kesehatan juga menjadi sorotan rekan-rekan Media. Pasalnya, masih ditemukan pasien peserta BPJS Kesehatan yang harus membeli obat di luar instalasi farmasi RS dengan alasan obatnya tak tersedia atau kosong.

“Pemerintah harus menyediakan fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, alat kesehatan serta obat yang dibutuhkan masyarakat. Pemerintah juga memiliki mandat untuk menjamin kesediaan obat bagi masyarakat dan menyusun daftar dan harga yang dijamin dalam mekanisme asuransi kesehatan yang dikelola BPJS Kesehatan,” kata Rizky Lestari.

Masih adanya pengaduan terkait kekosongan obat, sehingga pasien peserta BPJS harus membeli obat di luar atas resep yang diberikan dokter. Menurut Rizki, rumah sakit tidak diperkenankan meminta pasien peserta untuk menebus obat di luar, dengan alasan apapun. 

“Kami minta masyarakat untuk menyampaikan pengaduan kepada BPJS Kesehatan apabila mendapat perlakuan tersebut. Jika dokter telah meresepkan obat kepada pasien, rumah sakit wajib menyediakan obat tersebut. Dalam hal rumah sakit tidak punya kesediaan obat, tetap bagaimanapun caranya mereka yang menyediakan dan bukan pasien yang membeli,” tegasnya.

Menurut Permenkes RI No. 28 Tahun 2014, pasien BPJS berhak mendapatkan obat yang tercantum dalam formularium nasional (Fornas) dengan model pembiayaan paket inasibijis (Diagnosa Penyakit Pasien Menurut Dokter). Jika ada obat di luar Fornas, tetap dapat diberikan dan menjadi tanggung jawab rumah sakit.

Apabila terbukti ada kejadian seperti itu, Rizky Lestari mengatakan, masyarakat dapat melaporkan kepada BPJS. Prosedur pengaduan dapat dilakukan lewat call center BPJS di 1500400 atau datang ke langsung kantor cabang BPJS setempat. Pihaknya berjanji akan melakukan follow up kepada RS tersebut.

“Jadi sebenarnya, pasien tidak diperkenankan untuk membeli obat di luar. Semua pelayanan di RS menjadi kewajiban RS untuk menyediakan fasilitas, termasuk dengan obatnya. Semua paket pembiayaannya, sudah termasuk obat,” pungkasnya. (oyi)

About andri tj

Check Also

Kisah Pasien Covid-19 dari Kamar “Wiro Sableng”

Oleh : Doddi Irawan SABTU siang, 26 September 2020, saya ditelepon Arif Martaguna, wartawan Jamberita.com, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *