Breaking News
Home / Opini / MENTERI BARU: KEMANA ARAH PENDIDIKAN KITA?

MENTERI BARU: KEMANA ARAH PENDIDIKAN KITA?

Oleh: Bahren Nurdin

Judul di atas sepertinya terlalu ‘besar’ untuk artikel singkat ini. Tapi biarlah, saya hanya ingin menyampaikan sedikit landasan pikir dan perspektif tentang pendidikan kita saat ini. Apa sebenarnya yang kita butuhkan untuk pendidikan di negari ini. Anda boleh tidak setuju dengan saya.

Hari ini saya ngobrol-ngobrol ringan dengan salah satu pedagang kecil di emperan toko ***maret di daerah Jakarta Selatan. Salah satu kebiasaan saya sejak dulu adalah bertemu mereka-mereka yang luar biasa dengan bahasa yang sederhana. Bagi saya, cerita kehidupan mereka menjadi guru yang mengajari saya ilmu kehidupan itu sendiri. Hari ini daya belajar dari Pak Salimun. Pedangang kecil yang berjiwa besar dan kaya pengalaman. Dari sekian lama ngobrol, satu hal yang saya garisbawahi, ‘tahun 1961 saya merantau ke Jakarta. Pesan ayah saya cuma satu, jika mau selamat dalam hidup ini maka jujurlah”. Singkat dan jelas. Jujurlah!

Apa hubungannya dengan judul di atas? Ketahuilah, apa yang dimiliki oleh Pak Salimun adalah bentuk nyata pendidikan karakter yang ditanamkan oleh orang tuanya. Boleh jadi beliau tidak berkesempatan untuk berpendidikan tinggi. Tapi jiwa dan karakternya sudah sangat tinggi. Dia mampu menikmati hidup dan bahagia dengan cara yang sederhana.

Atau sebaliknya, ada begitu banyak oknum pejabat maling duit rakyat yang pada akhirnya ditangkap KPK dan hidup dipenjara. Pendidikan tinggi, harta berlimpah, hidup mewah tapi jadi sampah!

Lantas pendidikan mana yang sebenarnya kita butuhkan? Idealnya, pintar, cerdas, dan memiliki karakter yang baik. Menciptakan manusia Indonesia yang berilmu dan beriman; dunia dan akhirat.

Di sini kaitannya dengan menteri pendidikan dan kebudayaan yang baru saja dipilih oleh Presiden RI. Secara politis, jelas kebijakan pendidikan ini ada di tangan beliau bersama pengambil kebijakan lainnya.

Dari latar belakang beliau sebagai entrepreneur sejati dan beberapa pandangannya tentang pendidikan yang tersebar di media social, beliau sangat concern terhadap pengembangan Informasi Teknologi (IT) dan penguasaan Bahasa Inggris.

Saya sangat memahami jalan pikiran ini. Namun, saya mohon maaf tidak sepenuhnya bersetuju jika pengembangan teknologi (apa pun bentuknya) dan kemahiran berbahasa Inggris adalah tujuan pendidikan kita. Saya lebih cenderung menempatkan hal-hal ini sebagai alat (tools). Tidak lebih!

Apa bedanya? Jika dijadikan tujuan, maka goalnya adalah semua orang Indonesia harus bisa berbahasa Inggris dan menguasai IT. Tidak peduli untuk apa dan dengan cara apa pun. Namun, jika ditempatkan sebagai alat, ia hanya dijadikan cara atau media untuk mencapai sesuatu yang lain.

Saya masih menempatkan pendidikan karakter sebagai prioritas utama pendidikan kita; salah satunya adalah kejujuran. Kacamata sederhana saya, negeri ini tidak kekurangan orang pintar yang menguasai bahasa Inggris dan IT, tapi kita kekurangan pemimpin yang jujur.

Tanpa bermaksud membenturkan isu ini, orang Indonesia akan baik-baik saja tanpa cas cis cus berbahasa Inggris dan ahli teknololgi, tapi akan menghadapi kesulitan hidup yang lebih besar tanpa kejujuran. Anda pasti akan kontra jika saya katakan bahwa seluruh persoalan bangsa ini akan selesai dengan satu kata; jujur. Tidak percaya, mari kita buktikan.

Apakah dengan demikian saya tidak setuju seratus persen dengan penguasaan Bahasa Inggris dan IT (bahasa coding) untuk bergaul di kancah internasional? Bukan itu maksud saya. Yang saya keberatan jika hal ini dijadikan isu utama dan tujuan pendidikan kita. Perspektif saya, ini isu ecek-ecek.

Hal terbesar adalah membangun karakter anak bangsa. Jangan sampai kita menciptakan manusia-manusia robot yang cerdas tapi gersang nilai-nilai. Dia pintar berbahasa Inggris dan mahir tekhnologi tapi menjadi pencuri (korupsi) dan penjual harga diri bangsanya sendiri.

Saya sangat berharap, menteri baru ini akan membawa isu yang lebih besar dan esensial bagi bangsa ini. Negara ini bukan sebuah perusahaan yang hanya berorientasi profit (keuntungan / uang). Malu rasanya jika hanya menonjolkan kemampuan bahasa Inggris dan paham teknologi. Mari berpikir hal yang lebih besar dan futuristic lagi.

Akhirnya, negera ini memerlukan orang-orang besar yang berpikir besar. Level menteri tidak boleh berpikir parsial dan jangka pendek. Negara ini membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki karakter yang kuat sehingga terbentuk pribadi manusia Indonesia yang berilmu dan beriman!

*Akademisi UIN STS Jambi

About andri tj

Check Also

Keteladanan

Oleh: Musri Nauli MENYIMAK acara debat kandidat Gubernur Jambi 2020, gegap gempita terasa para pendukungnya. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *